Loading...

Minggu, 16 Mei 2010

makalah tentang kalimat

BAB I
PENDAHULUAN

I.I Pengertian Kalimat
Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang kalimat dikemukan. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai, 2002: 58).Panjang atau pendek, kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya (Wijayamartaya, 1991: 9).
Pendapat lain mengatakan, kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan, 1981:6). Menurut Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara actual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksan dkk, 1984:224). Satu bagian nujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap, adalah kalimat (Keraf, 1978: 156).
kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).

BAB II
PEMBAHASAN

2.I Macam-macam Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis respon yang diharapkan, (3) sifat hubungan aktor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama.
1. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor.
1. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas:
a) Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas:
b) Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal.
Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja)
c) Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan.
Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan.
d) Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat.
Contoh : (cepat) Meskipun hujan. (Dia tetap datang)
Kalimat urutan, yaitu kalimat mayor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuru, 1985:263)
Contoh : Karena itu, harga minyak naik.
e) Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai
akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas:
• Panggilan. Contoh :Bakso!
• Seruan. biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan.
Contoh : Halo!
• Judul, merupakan suatu ungkapan topik atau gagasan.
Contoh : Dampak negatif penayangan TV.
f) Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa.
Contoh : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
• Salam,
Contoh : Selamat pagi!
Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.).
Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928.

2. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, terdapat unsur pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas:
3. Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain.
Contoh :
-Yang berkaca mata hitam itu teman saya.
-Orang itu badannya sangat gemuk.
-Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong.
4. Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri, 1985:316).
Contoh :
-Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu.
-Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya.
-Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh.
5. Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan.
Contoh :
-Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak.
-Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang.
-Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja.

2. Berdasarkan respon yang diharapkan, kalimat dibedakan atas :
1) Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan) (Ramlan, 1981:10).
Contoh :
Cita-cita anak itu sangat mulia.
Saya tidak membawa uang sama sekali.
Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera.
2) Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan.
Contoh :
-Kakak sudah menikah?
-Mengapa anak itu tidak tidur?
-Siapa pemilik rumah itu?
3) Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan.
Contoh :
-Masuklah!
-Marilah kita belajar bersama-sama!
-Jangan membuang sampah di sembarang tempat!

3. Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
1) Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh :
-Anak itu memetik bunga di taman.
-Ayah membelikan kakak baju baru.
-Pembantu itu sedang menyapu halaman.
2) Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri, 1985:434)
Contoh :
-Badannya dilumuri minyak.
-Kita apakan barang-barang ini?
-Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu.
3) Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh :
-Jangan menyiksa diri sendiri.
-Wanita itu berhias di depan cermin.
4) Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan (Samsuri, 1985:198).
Contoh :
-Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan.
-Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi.
-Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang.

4. Bedasarkan ada tidaknya unsur negatif pada klausa utama, kalimat dibedakan atas:
1) Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsur negatif, peniadaan, atau penyangkalan.

Contoh :
-Petani itu membajak sawah.
-Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman.
-Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir.
2) Kalimat negatif, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak, tiada (tak), bukan, jangan. Unsur negatif tidak dipakai di depan verba, adjektiva, adverbial, dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. Unsur negatiF jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah (samsuri, 1985:250)
Contoh :
-Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat.
-Bukan buku itu yang saya cari.
-Jangan kau biarkan adikmu bergaul dengan dia.

BAB III
KOMENTAR
3.1 Komentar
Kalimat merupakan kesatuan ujaran yang mengemukakan pikiran dan perasaan pembicara. Kita ketahui unsur-unsur pendukung kalimat itu dapat berbentuk kata, frasa, dan klausa asal saja dapat mengungkapkan suatu makna. Dalam hal ini yang penulis kemukakan adalah klasifikasi kalimat dalam bahasa indonesia. Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis respon yang diharapkan, (3) sifat hubungan aktor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama.
Penulis beranggapan bahwa kalimat dapat terdiri atas satu klausa jika kalimat itu merupakan kalimat tunggal yang berklausa, sedangkan kalimat luas biasanya terdiri atas dua klausa atau lebih. “ Kalimat adalah kontruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola yang tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan ( Kridalaksana, 1984 : 83 ) “. Berdasarkan pernyataan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa klausa merupakan salah satu unsur segmental pembentuk kalimat, dengan kata lain klausa sebagai bagian dari kalimat.
Dengan kata lain klausa sebagai bagian dari kalimat. Kita tahu bahwa kalimat yang lengkap minimal harus mempunyai unsur subjek dan perdikat, lebih lengkap lagi bila disertai unsur-unsur yang lain. Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis respon yang diharapkan, (3) sifat hubungan aktor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama.
Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor.
Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa.
Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas.

BAB IV
KESIMPULAN
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai, 2002: 58).Panjang atau pendek, kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya (Wijayamartaya, 1991: 9).
Kalimat dapat terdiri atas satu klausa jika kalimat itu merupakan kalimat tunggal yang berklausa, sedangkan kalimat luas biasanya terdiri atas dua klausa atau lebih. “ Kalimat adalah kontruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola yang tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan (Kridalaksana, 1984 : 83). Berdasarkan pernyataan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa klausa merupakan salah satu unsur segmental pembentuk kalimat, dengan kata lain klausa sebagai bagian dari kalimat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar